Cara Mengetahui Pekerjaan yang Cocok

Cara Mengetahui Pekerjaan yang Cocok

Pekerjaan yang cocok bukan selalu pekerjaan dengan gaji paling tinggi atau posisi yang terlihat paling bergengsi. Pekerjaan yang tepat justru perlu mempertimbangkan kemampuan, minat, karakter, nilai pribadi, gaya kerja, dan tujuan hidup. Hal ini penting terutama bagi kamu yang baru ingin bekerja atau sedang mempertimbangkan untuk pindah karier. Jangan sampai kamu memilih pekerjaan hanya karena ikut tren, kemudian merasa terjebak setelah menjalaninya.

Bagi pencari kerja baru, banyaknya pilihan profesi bisa terasa membingungkan. Sementara itu, bagi seseorang yang ingin melakukan career switch, tantangannya berbeda. Kamu mungkin sudah memiliki pengalaman kerja, tetapi mulai merasa bidang yang sekarang tidak lagi sesuai dengan kebutuhan atau tujuanmu.

Karena itu, sebelum mengirim lamaran ke banyak perusahaan, luangkan waktu untuk mengenali diri sendiri.

Kenali Kekuatan yang Kamu Miliki

Langkah pertama untuk menemukan pekerjaan yang cocok adalah memahami kekuatan diri.

Kekuatan tidak selalu berarti kemampuan yang membuatmu mendapatkan nilai tinggi. Kekuatan juga dapat terlihat dari cara kamu menyelesaikan masalah, berkomunikasi, mengatur pekerjaan, mengambil keputusan, membangun hubungan, atau mempelajari sesuatu yang baru.

Coba tanyakan kepada diri sendiri:

  • Apa yang biasanya saya kerjakan dengan baik?
  • Masalah seperti apa yang mudah saya pecahkan?
  • Kegiatan apa yang sering membuat orang lain meminta bantuan saya?
  • Kemampuan apa yang sudah saya gunakan dalam pekerjaan atau organisasi?
  • Apa yang membuat saya merasa percaya diri ketika bekerja?

Tuliskan jawabannya. Dari sana, kamu bisa mulai melihat pola kemampuan yang selama ini mungkin tidak kamu sadari.

Bedakan Minat dan Kemampuan

Minat dan kemampuan memang berkaitan, tetapi keduanya tidak selalu sama.

Kamu mungkin sangat tertarik pada dunia desain, tetapi belum memiliki kemampuan desain yang cukup. Sebaliknya, kamu mungkin sangat pandai mengolah data meskipun tidak terlalu menyukainya.

Kondisi tersebut bukan masalah.

Jika kamu memiliki minat yang kuat, kamu dapat mengembangkan kemampuan melalui kursus, proyek pribadi, magang, atau pengalaman kerja. Sebaliknya, kemampuan yang sudah kuat dapat menjadi modal untuk memasuki bidang baru meskipun awalnya minatmu belum terlalu besar.

Jadi, jangan hanya bertanya, “Apa yang saya suka?” Tambahkan pertanyaan, “Apa yang bisa saya lakukan dengan baik?”

Perhatikan Aktivitas yang Membuatmu Bersemangat

Coba ingat kembali aktivitas yang membuatmu lupa waktu.

Apakah kamu menikmati berbicara dengan orang lain? Senang menganalisis data? Menyusun strategi? Membuat sesuatu? Mengajar? Menulis? Memecahkan masalah teknis? Mengatur kegiatan?

Jawaban tersebut dapat memberikan petunjuk tentang jenis aktivitas kerja yang mungkin membuatmu lebih nyaman.

Namun, jangan langsung mengubah satu hobi menjadi pilihan karier. Gunakan minat sebagai titik awal untuk mengeksplorasi beberapa kemungkinan pekerjaan.

Pahami Gaya Kerja yang Kamu Sukai

Dua orang dengan kemampuan yang sama belum tentu nyaman dalam lingkungan kerja yang sama.

Ada orang yang produktif ketika bekerja sendiri. Ada pula yang justru berkembang ketika bekerja bersama tim.

Sebagian orang menyukai pekerjaan yang terstruktur dan memiliki prosedur jelas. Sementara itu, orang lain membutuhkan ruang untuk bereksperimen dan mengambil keputusan sendiri.

Coba pikirkan:

  • Apakah saya nyaman bekerja dengan banyak orang?
  • Apakah saya suka pekerjaan yang rutin?
  • Apakah saya menikmati target yang menantang?
  • Apakah saya lebih nyaman bekerja di kantor atau secara fleksibel?
  • Apakah saya suka pekerjaan yang membutuhkan kreativitas?
  • Apakah saya menikmati pekerjaan yang membutuhkan analisis mendalam?

Jawaban tersebut akan membantu kamu menyaring lingkungan kerja yang sesuai.

Jangan Mengabaikan Nilai Pribadi

Nilai pribadi sering terlupakan ketika seseorang mencari pekerjaan.

Padahal, nilai pribadi dapat menentukan apakah kamu merasa nyaman dalam jangka panjang.

Misalnya, seseorang sangat menghargai fleksibilitas. Jika ia bekerja di lingkungan dengan aturan yang sangat ketat, ia mungkin cepat merasa tidak nyaman.

Sebaliknya, seseorang yang menyukai stabilitas mungkin merasa stres ketika harus bekerja dengan target yang terus berubah.

Karena itu, tentukan hal yang paling penting bagimu. Bisa berupa fleksibilitas, keamanan finansial, kesempatan berkembang, dampak sosial, kreativitas, keseimbangan hidup, atau lingkungan kerja.

Pelajari Pekerjaan Secara Nyata

Jangan memilih profesi hanya berdasarkan nama jabatan.

Misalnya, kamu tertarik menjadi digital marketer karena melihat banyak orang membicarakan profesi tersebut. Sebelum mengambil keputusan, cari tahu pekerjaan sehari-harinya.

Apa tugasnya? Skill apa yang dibutuhkan? Bagaimana targetnya? Bagaimana tekanan kerjanya? Apakah harus sering berkomunikasi dengan klien? Apakah pekerjaannya lebih banyak menganalisis data atau membuat konten?

Semakin banyak informasi yang kamu kumpulkan, semakin kecil kemungkinan kamu memiliki gambaran yang keliru.

Salah satu cara terbaik adalah berbicara langsung dengan orang yang sudah bekerja di bidang tersebut.

Gunakan Pengalaman untuk Career Switch

Jika kamu ingin berpindah karier, jangan menganggap pengalaman lama sebagai sesuatu yang harus dibuang.

Banyak kemampuan dari pekerjaan sebelumnya yang dapat kamu bawa ke bidang baru.

Misalnya, seorang sales yang ingin masuk ke bidang marketing sudah memiliki pengalaman komunikasi, memahami pelanggan, melakukan presentasi, dan mengejar target.

Seorang guru yang ingin masuk ke bidang corporate training sudah memiliki kemampuan mengajar, membuat materi, berbicara di depan orang, dan mengelola kelas.

Karena itu, identifikasi transferable skills yang kamu miliki.

Kemudian, cari pekerjaan baru yang membutuhkan kemampuan tersebut.

Evaluasi Pengalaman Kerja Sebelumnya

Bagi kamu yang ingin switch career, pengalaman kerja sebelumnya dapat menjadi sumber informasi yang sangat berharga.

Buat dua daftar sederhana.

Hal yang saya sukai dari pekerjaan sekarang:

  • tugas tertentu;
  • lingkungan kerja;
  • jenis orang yang ditemui;
  • fleksibilitas;
  • tanggung jawab;
  • kesempatan belajar.

Hal yang tidak saya sukai:

  • rutinitas;
  • tekanan;
  • jam kerja;
  • jenis tugas;
  • lingkungan;
  • gaya kepemimpinan;
  • sistem kerja.

Setelah itu, cari pola.

Mungkin sebenarnya kamu tidak membenci pekerjaanmu secara keseluruhan. Bisa jadi kamu hanya tidak cocok dengan lingkungan, posisi, atau jenis tugas tertentu.

Pemahaman tersebut dapat membantu menentukan arah career switch dengan lebih tepat.

Cari Pekerjaan yang Memiliki Titik Temu

Pekerjaan yang cocok biasanya berada di antara beberapa hal:

Kemampuan + Minat + Nilai Pribadi + Gaya Kerja + Peluang

Jika salah satu aspek tidak sesuai, kamu belum tentu langsung gagal. Namun, semakin banyak aspek yang saling mendukung, semakin besar peluang kamu merasa nyaman dan berkembang.

Misalnya, kamu memiliki kemampuan analisis, menyukai teknologi, senang bekerja secara mandiri, dan ingin terus belajar. Dari kombinasi tersebut, kamu dapat mengeksplorasi beberapa bidang seperti data analyst, software development, atau pekerjaan teknologi lainnya.

Tentu saja, pilihan akhirnya tetap membutuhkan eksplorasi lebih lanjut.

Jangan Terjebak dengan Gaji Saja

Gaji memang penting. Kamu membutuhkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Namun, gaji bukan satu-satunya pertimbangan.

Pekerjaan dengan gaji tinggi bisa tetap terasa berat jika lingkungan, beban kerja, atau jenis tugasnya sangat bertentangan dengan kebutuhanmu.

Sebaliknya, pekerjaan dengan gaji awal yang belum terlalu tinggi mungkin memberikan pengalaman dan keterampilan yang membuka peluang lebih besar di masa depan.

Karena itu, lihat total value sebuah pekerjaan: gaji, benefit, lingkungan, peluang belajar, jalur karier, fleksibilitas, dan keseimbangan hidup.

Coba Sebelum Mengambil Keputusan Besar

Kamu tidak selalu harus langsung resign untuk mengetahui apakah bidang baru cocok.

Jika memungkinkan, lakukan eksperimen kecil.

Kamu bisa mengikuti kursus, mengambil proyek freelance, menjadi volunteer, membuat proyek pribadi, mengikuti komunitas, atau melakukan pekerjaan sampingan.

Dengan cara tersebut, kamu dapat merasakan pekerjaan tersebut secara lebih nyata.

Bagi pencari kerja baru, proyek kecil juga dapat menjadi portofolio yang membantu ketika melamar pekerjaan.

Gunakan Tes atau Asesmen sebagai Pendukung

Jika kamu masih bingung memahami kekuatan dan kecenderungan diri, asesmen dapat menjadi salah satu alat bantu.

Salah satu pendekatan yang dikenal di Indonesia adalah STIFIn. Pendekatan ini memetakan kecenderungan mesin kecerdasan dan personaliti seseorang berdasarkan konsep STIFIn.

Informasi tersebut dapat membantu seseorang melakukan refleksi mengenai cara berpikir, belajar, bekerja, dan berinteraksi.

Namun, jangan menjadikan satu hasil tes sebagai keputusan mutlak.

Gunakan hasilnya bersama informasi lain seperti pengalaman, keterampilan, minat, pendidikan, kondisi finansial, dan peluang pekerjaan.

Buat Daftar Pekerjaan yang Cocok

Setelah mengenali diri, jangan langsung memilih satu profesi.

Buat daftar sekitar lima sampai sepuluh pekerjaan yang menarik perhatianmu.

Kemudian nilai setiap pekerjaan berdasarkan beberapa faktor:

FaktorNilai 1–5
Sesuai kemampuan
Sesuai minat
Sesuai gaya kerja
Sesuai nilai pribadi
Peluang karier
Potensi penghasilan
Kesempatan berkembang

Tidak perlu mencari nilai sempurna. Tujuannya adalah membandingkan pilihan secara lebih objektif.

Bagaimana Jika Belum Menemukan Pilihan?

Tidak masalah jika kamu belum langsung menemukan jawabannya.

Banyak orang baru memahami arah karier setelah mencoba beberapa pekerjaan. Pengalaman tersebut memberikan informasi tentang apa yang mereka sukai dan apa yang tidak cocok.

Jika kamu baru lulus, fokuslah membangun pengalaman dan keterampilan.

Jika kamu sudah bekerja dan ingin pindah bidang, manfaatkan pengalaman lama sebagai modal.

Yang penting, jangan berhenti mengeksplorasi.

Hindari Kesalahan Saat Memilih Karier

Ada beberapa kesalahan yang sering terjadi ketika seseorang menentukan pekerjaan.

Pertama, mengikuti tren. Profesi yang sedang populer belum tentu sesuai denganmu.

Kedua, hanya melihat gaji. Penghasilan penting, tetapi bukan satu-satunya faktor.

Ketiga, mengikuti pilihan teman. Jalan karier setiap orang berbeda.

Keempat, takut memulai dari bawah. Career switch memang mungkin membuatmu kembali belajar dari dasar. Namun, pengalaman sebelumnya tetap dapat menjadi modal.

Kelima, terlalu lama menunggu pekerjaan sempurna. Tidak ada pekerjaan yang selalu ideal. Yang kamu cari adalah pekerjaan yang cukup sesuai dan memberi ruang untuk berkembang.

Temukan Arah Kariermu dengan Lebih Terarah

Pekerjaan yang cocok tidak selalu langsung terlihat. Kamu perlu mengenali kemampuan, minat, karakter, nilai pribadi, gaya kerja, serta tujuan yang ingin dicapai. Setelah itu, eksplorasi beberapa bidang dan uji pilihanmu melalui pengalaman nyata.

Bagi kamu yang baru ingin bekerja, proses ini dapat membantu mempersempit pilihan. Sementara itu, bagi kamu yang sedang melakukan career switch, langkah tersebut dapat membantu menentukan bidang baru tanpa mengabaikan pengalaman yang sudah dimiliki.

Masih bingung menentukan pekerjaan atau arah karier yang sesuai dengan potensimu? Kenali kecenderungan diri melalui pendekatan STIFIn bersama STIFIn Banten. Hubungi STIFIn Banten untuk mendapatkan informasi mengenai tes, jadwal, dan layanan yang tersedia. Kenali dirimu lebih dalam sebelum menentukan langkah karier berikutnya.