2019-03-19 08:51:49

Sensing Sang Pembelajar

STIFInTelling.

Seperti tak bisa diam, sejak kecil Hana Muthia Izzaty (15 tahun) anak kami ini tampil ceria “nggak ada capeknya”. Bahkan dahulu dia pernah berceloteh “Kalau kakak diajak ke Mall itu capek, tapi kalau Hana nggak ke Mall dan di rumah saja nggak ngapa-ngapain itu yang capek”

Setelah di tes STIFIn Hana ternyata bermesin kecerdasan Sensing. Belahan otak nya yang paling dominan berada di sebelah kiri bagian limbik bawah. Maka cara berpikrinya dominan dipengaruhi oleh indranya. Hana termasuk orang yang bersifat kongkrit matematis dan transaksional.

Sensing pembelajar yang hebat karena belajar adalah sesuatu yang mereka butuhkan. Tanpa belajar mereka sulit untuk mebayangkan. Belajar melalui panca indra nya, dengan melihat, mendengar, mencium, merasakan. Semakin mereka belajar dengan rajin maka disanalah pengalaman mereka tertempa dengan baik. Sehingga rajin merupakan kunci dari keberhasilan seorang Sensing.

Sensing hanya bisa membayangkan hal-hal yang berada “dimasa kini” dan “dimasa lalu”. Sensing tidak b isa atau agak sulit untuk membayangkan masa depan. Baginya hari ini dan kemarin saja. Besok itu soal nanti. Berbeda jauh dengan orang Intuiting. Yang handal dalam persoalan membayangkan dan memprediksi masa depan nya.

Karena mereka konkrit, maka mereka membentengi dirinya dengan hal-hal yang bersifat praktis dan mengarah kepada hal yang pragmatis. Membangun komunikasi dengan Hana dan Nada (Kakak nya Hana yang kebetulan juga Sensing) kami selalu mengedepankan bukti-bukti. Tanpa bukti mereka tidak akan percaya. Bukti itu harus dia lihat sendiri dan dibuktikan sendiri oleh dirinya

Dengan Hana dan Nada kami membangun ruang transaksi. Praktis mengarahkan pada sesuatu yang transaksaksional. Rajin belajar maka mereka akan mendapatkan sesuatu. Kamar mereka rapih dan bersih maka mereka akan dapat sesuatu imbalan. Itu diawal-awal ketika mereka masih kecil. Ketika mereka sudah dewasa, kami mulai mengganti bahasa-bahasa transaksional kami dengan bahasa yang lebih mengarah pada membangun kesadaran mereka.

Lalu apakah transaksional nya hilang? Tentu tidak! Kita mengarahkan nya kepada hal yang lain. Kita mulai pelan-pelan mengenalkan mereka uang dan cara mengelola nya. Kita mulai mengajari mereka berbisnis.

Ketika ingin memulai berbisnis, kita menghadapi kendala. Ini kendala orang Sensing. Apa itu? Sensing memiliki penyakit akut. Kurang PD (Percaya Diri).

Akhirnya kita belajar untuk memotivasi nya. Belajar untuk memotivasi orang Sensing yang tidak percaya diri, tapi disisi yang lain Sensing juga memiliki persoalan yang lain. Apa lagi itu? Sensing terkesan agak cuek. Agak kurang memperhatikan apa yang disampaikan. Tidak segera merespon dengan cepat.

Tapi jika bicara soal gerakan yang dibangun oleh orang Sensing, ini sangat luar biasa. Ia tanpa inhibisi juga tanpa eksitasi. Bisa dikatakan gas ditekan sampai full, dan tidak menginjak rem sama sekali. Bergerak dulu baru berpikir. Beda dengan dengan Thinking yang berpikir nya banyak, namun bergerak nya lamban, butuh rangsangan.

Bisnis sangat baik di pegang oleh Sensing. Maka kedua anak kami Hana dan Nada selalu kami berikan gambaran bahwa bisinis adalah jalan mereka. Mereka harus membangun bisnis mereka sedari dini. Apapun yang menjadi minat mereka, platform nya tidak kami arahkan untuk mereka bekerja dengan orang lain, tapi mereka harus membangun bisnis mereka sendiri.

Bersambung….

Related Articles

STIFInTelling

Sensing Sang Pembelajar


STIFInTelling

Sukses Mulia KW


Event

---COMING SOON---