2019-02-10 01:53:09

Aku ingin punya suami seperti Bapak

Artikel.

Liburan semester telah tiba, untuk pertama kalinya Dewi ikut pemulangan santriwati bersama konsulat Banten. Rombongan 3 bus dari Widodaren, Ngawi - Jatim tiba di Mesjid Agung Serang, Banten sekitar pukul 14.00 WIB. Ratusan mata orang tua memusatkan pandangan ke setiap bus yang datang membawa rombongan, berharap mujahidah tercintanya terlihat segera untuk mengobati rindu yang lama tersimpan. Sayapun termasuk salah satunya.

Tidak lama saya menemukan Dewi, karena sebelumnya sudah dikabari bahwa rombongannya ada di Bus 2, dan bus yang muncul duluan pun Bus 2. Setelah merapikan tas dan koper, mujahidah pun dikumpulkan di selasar mesjid untuk diberi pengarahan.

Kami pun bergegas segera pulang, tapi ditengah perjalanan Dewi minta makan di MD. Bukan franchise Fast Food yang terkenal itu, tapi MD disini adalah ayam bakar Mang Dadang, disingkat MD, he he ...

Selama di rumah, jelas sekali perubahan yang dialami oleh Dewi, fisik ya Alhamdulillah, sedikit ada pelebaran, ya tambah gemuk. Padahal kita para orang tua udah tau kayak gimana menu makan disana 😁.

Banyak istilah Bahasa Arab yang terlontar dan kadang kami balik tanya maksudnya apa. Setelah dijelaskan baru tau artinya. Alhamdulillah, fisik sehat, kompetensi keilmuan makin meningkat, sikapnya pun berubah jauh semakin lebih baik.

Suatu hari, jelang tidur Dewi ngobrol santai dengan ibunya di kamar, saya seperti biasa mengerjakan tugas di depan laptop, dari sekian lama obrolan, ada satu topik percakapan yang sempat saya dengar dari mulut Dewi, kalo tidak salah dengar Dewi bilang sama ibunya, "Bu, Dewi nanti kalo udah waktu nikah, Dewi mau punya suami seperti Bapak" kata Dewi "Kenapa emang mau seperti Bapak?" Ibunya balik tanya "Bapak orangnya baik, sayang sama Ibu, sayang Dewi, Haikal, dan Hafidzah, sayang sama keluarga" "Dulu waktu sekolah di SD sampe MTs, Dewi sering di anter jemput Bapak, Seneng bisa ngobrol bareng selama diperjalanan..." "Banyak temen Dewi yang bilang, beruntung punya Bapak seperti Bapak Dewi, deket banget... Selalu ada saat ambil Raport, selalu antar jemput sekolah, baik sama temen-temen Dewi." "Bapak kerjanya dirumah, uangnya dateng sendiri, he he ..., Pokoknya, Dewi mau punya suami seperti Bapak ...."

Saya pura-pura tidak mendengar dan tak acuh, seolah tidak terdengar obrolan tadi. Padahal air mata ini meleleh .... Haru dan bahagia, Dewi tau harus mencintai siapa untuk jatuh cinta pertamanya, ya .... Cinta pertamanya adalah Bapaknya.

Bahagianya kita sebagai orang tua, ketika suatu saat mendampingi di dalam suatu ikatan suci menjadi Wali dalam meikahkan Anak perempuannya...

Tanggung jawab sebagai orang tua lepas sudah untuk dilanjutkan kepada pasangan hidupnya. Setelah tahapan sebelumnya adalah menjadikan orang tua sebagai tempat curhat dalam hal apapun, termasuk hal pribadi. Masih ada waktu untuk terus meningkatkan Kualitas mujahidahku, 4-5 tahun kedepan ikhtiar ini sedang dilakukan dengan menempa diri di Ponpes Modern Gontor Putri 3. Ikhtiar menjadikan mujahidahku sebagi "High Quality Single".

Cerita itu bukan proses sehari dua hari, tapi memang sepanjang kita mengemban amanah. Prosesnya harus kita nikmati tanpa kita merasa cape, terpaksa, atau sekadar menggugurkan kewajiban. Ya kita harus enjoy, dan disaat yang sama, anak-anak kita menerima perlakuan itu sesuai fitrah geneticnya, atau saya biasa sebut dengan bakat alaminya. Pada kesempatan lain saya akan ceritakan bagaimana prosesnya. Apa itu bakat alami? Tunggu tulisan saya berikutnya...

Sudah semestinya sunnatullah berlaku, kita sebagai orang tua mempersiapkan anak-anaknya untuk menjadi High Quality Single, karena kelak, dari rahim merekalah akan lahir manusia-manusia unggul, akan ada dukungan-dukungan terhadap segala keputusan yang akan diambil pasangan hidupnya nanti.... Subhanallah ...

Beni Badaruzzaman #BrainGeneticPotential #HighQualitySingle #NewBook

Related Articles

Event

---COMING SOON---