SEKOLAH ORANG TUA

Sekolah orang tua
Kemarin baru aja diskusi bareng istri tentang rencana – rencana kami di masa yang akan datang terutama perencanaan sekolah buat our little princess Khansa. Maklum lagi adaptasi sebagai orang tua baru. Emm.. tapi ngomong – ngomong soal perencanaan sekolah, kami yakin dan percaya bahwa setiap orang tua menginginkan pendidikan yang terbaik untuk buah hatinya benar? Pastinya ya kan?. tapi sebelum melangkah ke pendidikannya nanti sadarkah sebagai orang tua bahwa madrasah (sekolah) pertama untuk anak adalah dirumahnya, dalam hal ini bisa diartikan orang tua adalah sekolah pertama untuk anak. Seperti kata guru kami kang Sofyan Hadi “ngurus bisnis bisa sambil merem tapi ngurus keluarga gak bisa sambil merem. Fanatiklah terhadap dua hal: Tuhan dan keluarga” hmm.. ya, kami sangat setuju dengan nasihat tersebut, karena sebetulnya anak dan keluarga adalah amanah dari Allah dan pastinya akan diminta pertanggung jawabannya kelak di yaumil akhir. Semoga kita mampu memikul amanahNya, Aammiin. 
Dan ngomong – ngomong soal sekolah pertama bagi anak, kami teringat dengan sebuah buku yang berjudul Manage Your Mind For Success karya Adi W. Gunawan, seorang praktisi pendidikan dan mind educator. Dalam sebuah bab beliau ceritakan tentang fase perkembangan anak yang ingin kami sampaikan dengan bahasa kami. Singkatnya, setiap anak akan melewati tiga fase perkembangan dalam hidupnya:
1.    Fase tanam (copy paste)
2.    Fase modeling (meniru)
3.    Fase sosialisasi (penyesuaian)
Kita bahas ya. Saat anak berusia 0 – 7 tahun ia seperti kertas putih yang bersih, yang belum tau ini dan itu, ia belajar, mendengar, melihat dan merasakan segala sesuatu disekitarnya dan semuanya di copy paste, inilah masa tanam. Jadi sebetulnya tidak ada anak yang terlahir bodoh, nakal, dan sifat negatif lain, darimana ia belajar kalau bukan dari lingkungan tempat ia tumbuh? Kami introspeksi diri jangan – jangan selama ini kami memberikan program yang salah. Insya Allah saat ini kami lebih selektif dalam berucap atau menonton televisi terutama saat anak kami Khansa ada di tengah – tengah kami. Master Romy Rafael seorang pakar Hypnosis pernah berkata ketika tidur atau jangan sampai tertidur ketika sedang menonton TV karena ketika menjelang ngantuk dan pada saat itu tayangan TV sedang menyiarkan tayangan yang tidak baik maka berpotensi menjadi sugesti negatif bagi diri kita, astagfirullah.. Bayangkan, fikirkan, rasakan seandainya para orang tua sering menonton tayangan yang tidak mendidik sambil mengasuh anaknya yang berusia 0 – 7 tahun, jangan salahkan anak jika ia tumbuh dengan kata – kata, sikap dan perilaku negatif. 
Jadi teringat dengan pengalaman guru kehidupan kami, pada tahun 2008 kami sempat mengikuti sebuah pelatihan Time Line Therapy Practitioner di Starfield Institute. Guru kami pernah menterapi seorang klien yang seorang pekerja keras, rajin, ulet, berkeinginan kuat ingin menjadi orang kaya, namun rasanya sulit sekali menjadi kaya, seolah ada suara – suara sumbang dalam hatinya yang tidak mengizinkan ia menjadi kaya. Ketika di terapi dan memasuki past regresi ternyata pikiran bawah sadar si klien membawanya ke peristiwa saat berada dalam kandungan ibunya, disitu ia mendengar, ada sepasang suami istri bertengkar karena masalah uang. Saat itu ia ngebatin “kalau uang cuma bikin masalah, saya gak mau deh punya banyak uang” Ooow.. sebuah kenyataan masa lalu yang sulit diterima dengan logika kami pada waktu itu, masa ia bayi dalam perut bisa ngebatin? Sampai pada akhirnya kami baru tau bahwa bayi dalam kandungan bisa merasakan apa yang ibundanya rasakan. Dan tahukah anda bahwa di masa lalu (dalam kandungan) si klien guru kami ini, saat ia memutuskan “menjadi orang yang sulit menjadi kaya” bukanlah karena ia mendengar orang tuanya bertengkar soal uang, namun ternyata sang ibunda sedang nonton sinetron yang menayangkan adegan pertengkaran suami istri yang ribut soal uang. Masya Allah.. bahkan sebelum dilahirkan pun, bayi dalam kandungan bisa merasakan yang ibundanya rasakan. Semoga kita dilindungi dari efek buruk media yang setiap hari kita saksikan. 
Fase berikutnya adalah modeling atau meniru, usia 7 – 14 tahun. Pada dasarnya anak terlahir seperti kertas putih ia belum punya sosok yang bisa ia tiru dalam hidupnya, kecenderungannya ia meniru dari sosok yang dikaguminya. Periode ini termasuk periode kritis karena anak sudah masuk jenjang sekolah dasar (SD) menurut survey penulis kebanyakan yang ditiru anak adalah hal negatif.  
Pakar parenting bunda Ely Risman, S.Psi pernah menyampaikan sebuah fakta terkini tentang bahaya media internet dan gadget yang ternyata menjadi pintu masuk akses konten Porno kepada anak – anak usia SD naudzubillah.. kami coba cari tahu apa yang dirusak oleh pornografi dan kami temukan jawabannya ketika mengikuti Workshop STIFIn lisensi promotor selama tiga hari di Jakarta pada bulan juni 2015, dari berbagai bagian otak dengan masing – masing fungsinya, ada sebuah bagian otak yang dinamakan pre frontal tepatnya dibagian otak sebelah kanan ± 2 cm diatas alis mata yang bertanggung jawab untuk membedakan antara pikiran yang saling bertentangan, menentukan baik dan buruk, lebih baik dan terbaik, yang sama dan berbeda, konsekuensi masa depan dari kegiatan saat ini, bekerja menuju tujuan yang ditetapkan, prediksi hasil, harapan berdasarkan tindakan, dan “kontrol” sosial. Bisa dibayangkan apa jadinya jika pre frontal ini belum ‘matang’ tapi sudah dirusak oleh konten pornografi? Hiiih mengerikan, dan kabar buruknya mungkin perusak itu sudah berikan secara bebas yang dinamakan dengan gadget karena dari situlah pintu masuk kerusakan otak, maka bijaklah dalam menggunakan gadget untuk anak kita terutama di fase modeling ini. Hasil pemrograman fase modeling ini akan terus terbawa hingga anak tumbuh menjadi seorang manusia dewasa. Apa yang terjadi di lima tahun pertama hidup anak di SD akan menentukan hidup anak selanjutnya. Arrgghhh… rasanya ingin berbisnis saja untuk 2-3 tahun ini selajutnya full perhatian untuk anak saja, kebayang apa jadinya kalau kami kedua orang tuanya terlalu sibuk bekerja untuk orang lain dan kurang memperhatikan perkembangan anak hiks hiks T_T jadi teringat sebuah nasehat “uang hilang bisa dicari tapi waktu kebersaman dengan keluarga yang hilang gak bisa kembali”.
Fase terakhir, fase sosial usia 14-21 tahun merupakan kelanjutan perkembangan dari apa yang telah didapat pada fase tanam & fase modeling. Pada periode ini pemrograman lebih banyak berasal dari interaksi sosial anak bisa dari teman, buku, film, gadget, internet, teman dekat dll. Apabila program yang diperoleh anak pada dua fase pertama baik insya Allah di fase ini akan baik begitu pula sebaliknya. Ini fase yang paling singkat saya ceritakan karena belum ada pengalaman pribadi hehe..sekian dari kami, semoga bermanfaat. Ohiya hampir lupa, yang belum tes STIFIn, tahun 2016 harga tesnya akan naik menjadi Rp. 350.000,- segera hubungi promotor STIFIn terdekat ya.

Rizal Muharam (SMS / WA 08777 14 222 14)
Promotor STIFIn Berlisensi & Ayah Rumah Tangga Yang Berbahagia